Bertamu pada Lao Tzu
sebuah renungan menarik bagi generasi gen z
Bujang Lapuk
5/21/20262 min baca
Dalam filsafat timur khususnya ajaran yang dibawa oleh begawan dari abad 6 sebelum Masehi bernama Lao Tzu (570 SM-470SM) sebagai pendiri Taoisme. Riwayat hidupnya tidak banyak orang tahu, begitulah seorang filsuf. Banyak sekali ungkapan bijaksana legendaris yang disampaikan oleh filsuf Tiongkok ini:
Mengenal orang lain adalah kecerdasan
mengenal diri sendiri adalah kebijaksanaan sejati.
Menguasai orang lain adalah kekuatan
menguasai diri sendiri adalah kekuasaan sejati.
Jika Anda depresi, Anda hidup di masa lalu.
Jika Anda cemas, Anda hidup di masa depan.
Jika Anda merasa tenang, Anda hidup di masa kini.
Peduli dengan apa yang dipikirkan orang lain, dan Anda akan selalu menjadi tawanan mereka.
Dicintai sepenuh hati oleh seseorang memberi Anda kekuatan, sementara mencintai seseorang sepenuh hati memberi Anda keberanian.
Masih banyak sekali ungkapan yang relevan dengan kegilaan jaman (Now). Ada ungkapan yang sangat Masyhur. Kalau filsafat barat bertanya tentang ada. Apa itu ada? Apakah ada itu tiada? Apakah tiada itu ada?. Filsafat Timur mengajak kita bertemu dengan ungkapan populer “Kosong adalah isi, isi adalah kosong”. Kalimat yang berasal dari kitab suci Prajnaparamita Hrdaya Sutra, kitab paling suci dalam ajaran Buddha. Di indonesia dipopulerkan oleh karakter Biksu Tong Sam Cong dalam film legendaris Kera Sakti.
Konsep Sunyata (kosong), tidak ada sesuatu yang independen semua kausalitas dan interdependen. Sedangkan “Isi” adalah kosong yang menggambarkan dalam jiwa dan fisik manusia tidak ada yang abadi dan cenderung dinamis. Sebagai contoh "Tak perlu terlalu yakin bahwa cantik itu putih, mulus, tinggi, kurus, bahenol dan berbagai jenis lainnya" Sebab ia sebatas ruang dan waktu dimana para kapital pasar sedang bersaing.
"Kosong adalah isi" Pada hakikat kekosongan dalam kehidupan yang memungkinkan segala wujud berubah. Maka jika segala hal di kehidupan ini menjadi permanen dan semua absolut. Maka kehidupan akan kaku, jomblo tidak menikah, pohon tidak berbuah, dan kamu tetap sunyi sebab tak ada orang yang menanyakan kabarmu sendiri.
Hal paling sederhana adalah tak perlu terpuruk dengan dinamika kehidupan yang masih ber-zig zag. Tidak kunjung menikah, masih menjadi mahasiswa amatiran, rebahan, pemalas, pengangguran, tidak bisa Move On, tidak diminati segala jenis calon mertua. Lao Tzu mengajak kita untuk tetap santuy melihat kekosongan bukan pada kehilangan atau pada ketiadaan, tetapi sebagai ruang dimana semua itu masih ada potensi, keterbukaan dari berbagai hal yang mungkin akan terjadi.
Nah, mari gen zerogami kita cari benang merah dengan realitas hidup hari ini, dimana letusan Big Data mampu menghilangkan identitas kemandirian dan keberadaan seseorang ditentukan pada instastory di media sosial. Tidak bisa dipungkiri kita sudah dikepung oleh kemewahan yang semu, hidup yang serba instan, pengakuan di media sosial, keterasingan di meja kopi, intoleran pada intoleransi itu sendiri, menjadi generasi karbitan yang apabila ditelan jadi racun di muntahkan jadi api. Semua tak lain dilakukan untuk mencari eksistensi pada digital yang dianggap sebagai “isi” atau konstruk kesenangan yang dibangun oleh lingkungan.
Dalam pandangan Lao Tzu , semua yang sudah menjadi habitus adalah ilusi yang menjadikan ketergantungan diri (kosong). Kesenangan, subscribe, like, komen, tombol berbagi, followers, saweran dan bahkan flexing sekalipun adalah bersifat sementara dan kerap kali menguap dan dimuntahkan menjadi insecure dan rentan menjadi stres.
Konsep kekosongan ini mengajak kita untuk tidak terjebak pada validitas orang lain yang mungkin saja akan menjadi ancaman untuk diri anda sendiri. Disadari atau tidak semua ini adalah orkestrasi yang dibangun untuk merusak kreativitas dan moralitas generasi supaya tetap bergantung pada media sosial. Kita dijadikan manusia amfibi yang hidup di dua dunia, dunia nyata dan dunia maya.
Kontak
Hubungi kami untuk berbagi cerita dan ide
Telepon
+62877-3442-6241
© 2025. All rights reserved.
