Ilmu, Kesadaran, dan Keheningan: Sebuah Pengantar
Ilmu tanpa moralitas, responsibiltas, dan respectabilitas hanyalah gema kosong. mari kita menengok ke dalam: mengapa ilmu mesti dipadukan dengan tanggung jawab, respek, dan kedewasaan batin - mulai dari tanya kecil yang berani hingga tindakan yang penuh hikmah.
Hasbullah A Arief Madani
5/8/20262 min baca
Ilmu, Kesadaran, dan Keheningan: Sebuah Pengantar
Ilmu pengetahuan tanpa morality, responsibility dan respectability hanya menjadi omong kosong belaka. Tidak ada arah dan tidak ada tujuan yg pasti, yang demikian itu hanya menjadi keangkuhan dan keegoisan yang menyesatkan. Ilmu pengetahuan butuh sebuah kedewasaan diri, yang berarti:
Ukur sebelum jujur
Pikir sebelum bicara
Tahan sebelum meluap
Dengar sebelum menyela
Diam tatkala kata itu tak diperlukan
Sayangnya, kedewasaan tidak dihidangkan di sebuah gedung sekolahan atau perguruan tinggi. Kedewasaan datang dari dalam diri sendiri yang berwujud sebuah kesadaran. Kesadaran tidak akan ada tanpa rasa penasaran diri yang menghasilkan sebuah "tanya", bertanya kepada siapa? Lebih tepatnya ke diri sendiri.
Tulisan ini sama sekali tidak bermaksud membungkam sikap kritis, akan tetapi lebih dari itu untuk mendorong kita agar kritis dan ber-tanya ke diri sendiri terlebih dahulu sebelum lantang menyuarakan pendapat yang menurut keyakinan diri dianggap benar.
Sang pembawa risalah kenabian mendapatkan perintah pertama berupa iqra' (Bacalah!) yang turun di sebuah tempat sepi, gelap, dan sunyi, yang bernama Goa Hira'.
Goa hira' adalah tempat yang sepi, tidak ada mimbar yang menghasilkan suara lantang, tidak ada gemuruh tepuk tangan, tidak ada sorak pujian. Alur nya seperti ini:
Sebelum ada Perintah ada Taat
Sebelum ada Taat ada Paham
Sebelum ada Paham ada Jawab
Sebelum ada Jawab ada Tanya
Sebab keheningan Goa hira' itu Nabi Muhammad menemukan keberanian untuk bertanya, tidak serta merta menemukan jawaban berupa perintah.
Goa Hira' melambangkan sebuah pondasi sejatinya diri dalam penghambaan yang bermula dari sebuah tanya, yang kemudian bermuara ke sebuah jawaban berupa perintah iqro' (bacalah).
Sedikit contoh:
Kita terlalu sibuk mengajarkan dan diajarkan cara melaksanakan sholat dan konsekuensi jika tidak sholat, sebelum mengajarkan diri kita sendiri cara bertanya "kenapa saya harus sholat?". Jangan heran mengapa sholat kita kosong, karena kita sibuk memberi dan diberi atap tanpa mengajarkan cara bikin pondasi. Jadi, kapan terakhir kali kita berani untuk mengosongkan diri dan mengisi dengan tanya?
Pada akhirnya, Bermula dari perintah iqro' kepada sang pembawa risalah kenabian 1400 tahun lalu sampai sekarang terciptalah sebuah tatanan kehidupan yang terang benderang karena ilmu pengetahuan dan keimanan.
Membaca membutuhkan mata untuk melihat, telinga untuk mendengar, mulut untuk berbicara, dan hati yang siap menerima jika mungkin selama ini salah dan sering menganggap diri ini benar karena keegoisan.
Ki Hajar Dewantara yang kita kenal sebagai "bapak pendidikan indonesia" mecetus sebuah falsafah kedewasaan ilmu pengetahuan:
"Ing ngarsa sung tuladha" (yang didepan memberikan keteladanan)
"Ing madya mangun karsa" (yang ditengah memberikan semangat)
"Tut wuri handayani" (yang dibelakang, memberikan dorongan dan motivasi)
Falsafah yang menghasilkan gagasan besar bagi dunia pendidikan Indonesia itu lahir di sebuah tempat kopian, tepatnya dari sebuah secangkir kopi yang ditemani sebuah buku bacaan.
Akhir akhir ini sedikit miris, tempat perkopian jarang sekali menjadi tempat dialektika dan lahirnya gagasan dan kreativitas. Falsafah "tut wuri handayani" telah berubah perlahan menjadi "tut wifi handayani" (mengutip tulisan Dhafir Zuhri, filsafat pemalas). Kembali lagi kenapa hal seperti itu bisa terjadi? Karena kebanyakan dari kita yang katanya ber-ilmu pengetahuan ternyata tidak punya kedewasaan.
Kontak
Hubungi kami untuk berbagi cerita dan ide
Telepon
+62877-3442-6241
© 2025. All rights reserved.
