Investasi: Jalan Menuju Kemandirian dan Keberkahan Ekonomi Umat
mengenal lebih mendalam terkait tujuan dan fungsi dari sebuah investasi
Ismiatul Khairiyah, ME.
5/8/20263 min baca
Beberapa tahun terakhir, kita semakin sering mendengar kata “investasi”. Tidak hanya di ruang kuliah atau seminar ekonomi, tetapi juga dalam percakapan sehari-hari, iklan, dan media sosial. Tapi pertanyaannya: apakah kita sudah benar-benar memahami pentingnya investasi? Terutama investasi yang selaras dengan nilai-nilai syariah?
Dalam pandangan ekonomi modern, investasi adalah penggerak utama pertumbuhan. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I tahun 2025 mencapai 5,11% (yoy), dan salah satu penyumbang utamanya adalah pembentukan modal tetap bruto (PMTB) atau investasi tetap, yang tumbuh 4,5% (BPS, 2025). Ini menunjukkan bahwa investasi berperan besar dalam membuka lapangan kerja, mendorong produksi, dan memperkuat daya saing nasional.
Namun, masih ada tantangan besar: rendahnya literasi keuangan syariah yang masih tertinggal. Menurut hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) tahun 2025, literasi keuangan nasional meningkat menjadi 66,46%, dan literasi keuangan syariah pun menunjukkan kemajuan dengan capaian 43,42%. Namun demikian, tingkat inklusi keuangan syariah masih cukup rendah, hanya sebesar 13,41% (OJK & BPS, 2025). Artinya, meskipun semakin banyak masyarakat yang mulai mengenal produk keuangan syariah, belum banyak yang benar-benar mengakses dan menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari.
Investasi dalam Perspektif Islam
Islam tidak hanya mendorong umatnya untuk bersedekah dan berzakat, tetapi juga untuk mengembangkan hartanya secara produktif dan halal. Dalam QS. An-Nahl: 71 disebutkan bahwa Allah memberikan kelebihan rezeki kepada sebagian orang, yang berarti kelebihan itu perlu dimanfaatkan, bukan disimpan tanpa faedah.
Konsep investasi dalam Islam dikenal dengan istilah istitsmar, yaitu mengelola harta agar berkembang dengan cara yang adil dan halal. Investasi syariah menghindari riba, gharar (ketidakpastian), dan maisir (spekulasi), serta mengedepankan keadilan dan transparansi. Saat ini, pilihan instrumen investasi syariah sangat beragam: sukuk negara, saham syariah, reksadana syariah, hingga fintech berbasis peer-to-peer lending.
Nilai outstanding sukuk negara per Mei 2025 telah mencapai Rp1.530 triliun, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Ini menunjukkan bahwa semakin banyak masyarakat dan institusi yang percaya pada instrumen investasi halal dan aman (DJPPR Kemenkeu, 2025).
Akses Investasi Kini Semakin Mudah
Salah satu kabar baik adalah, hari ini investasi tidak lagi identik dengan angka besar. Lewat platform digital seperti Bibit Syariah, Ajaib Syariah, hingga Ethis Indonesia, siapa pun bisa mulai berinvestasi hanya dengan Rp10.000. Bahkan ada platform yang menghubungkan dana umat untuk membiayai proyek sosial seperti pembangunan rumah layak, pertanian, dan UMKM.
Investasi bukan hanya tentang menambah kekayaan, tapi juga membuka jalan untuk keberkahan dan pemberdayaan. Kita bisa menjadi bagian dari solusi atas kesenjangan ekonomi di sekitar kita.
Peran Generasi Muda dan Edukasi Berkelanjutan
Menurut survei Katadata Insight Center (2023), 59% anak muda Indonesia (milenial dan Gen Z) belum memiliki portofolio investasi. Namun, data terbaru per April 2025 menunjukkan bahwa lebih dari 54% investor pasar modal Indonesia berasal dari usia di bawah 30 tahun, yang menjadikan mereka mayoritas pelaku pasar investasi aktif. Ini menunjukkan bahwa terjadi perubahan positif dalam perilaku investasi anak muda. Meskipun demikian, edukasi yang membumi dan berkelanjutan masih dibutuhkan agar lebih banyak lagi generasi muda yang memahami dan memilih instrumen investasi yang halal dan produktif.
Para pendidik, da’i, dan media memiliki peran penting untuk mengenalkan konsep investasi syariah kepada generasi muda. Literasi investasi tidak harus dimulai dari angka dan teori rumit, cukup dengan kisah inspiratif, testimoni pelaku, atau praktik sederhana seperti mengenal reksa dana syariah dan sukuk ritel.
Kunci Kemandirian Ekonomi Umat
Investasi syariah bisa menjadi salah satu solusi untuk membangun kemandirian ekonomi umat. Kita tahu bahwa sektor UMKM menyerap lebih dari 97% tenaga kerja Indonesia dan menyumbang 61% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), namun masih menghadapi keterbatasan akses pembiayaan (Bank Indonesia, 2024). Investasi yang terarah ke sektor produktif ini bisa menjawab kebutuhan tersebut.
Investasi, jika dilakukan dengan niat yang benar, cara yang halal, dan tujuan yang mulia, tidak hanya akan menguntungkan secara materi, tetapi juga memberi keberkahan dan manfaat bagi sesama. Sudah saatnya kita memandang investasi bukan sebagai sesuatu yang mewah, tapi sebagai bagian dari tanggung jawab kita sebagai muslim yang peduli masa depan.
Daftar Rujukan:
1. BPS. (2025). Ekonomi Indonesia Triwulan I-2025. https://www.bps.go.id/pressrelease/2025/05/07/1906/ekonomi-indonesia- triwulan-i-2025-tumbuh-5-11-persen.html
2. OJK. (2023). Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan 2022. https://www.ojk.go.id/id/berita-dan-kegiatan/siaran-pers/Pages/OJK-Rilis-Hasil- Survei-Nasional-Literasi-dan-Inklusi-Keuangan-2022.aspx
3. DJPPR Kemenkeu. (2025). Statistik Sukuk Negara. https://www.djppr.kemenkeu.go.id
4. Bank Indonesia. (2024). Profil UMKM di Indonesia. https://www.bi.go.id/id/publikasi/laporan/umkm/Default.aspx
5. Katadata Insight Center. (2023). Survei Perilaku Investasi Anak Muda Indonesia.
6. OJK & BPS. (2025). Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025. https://www.ojk.go.id/id/berita-dan-kegiatan/siaran-pers/Pages/OJK-dan-BPS- Umumkan-Hasil-Survei-Nasional-Literasi-Dan-Inklusi-Keuangan-SNLIK-Tahun- 2025.aspx
7. Republika & Goodstats. (2025). Statistik Investasi Generasi Muda. https://www.republika.id/posts/58023/membekali-gen-z-berinvestasi-di-pasar- modal
Kontak
Hubungi kami untuk berbagi cerita dan ide
Telepon
+62877-3442-6241
© 2025. All rights reserved.
